Jambu Air, Agam — Mudir Mahad Aly Sumatera Thawalib Parabek melantik jajaran pengurus organisasi kemahasantrian untuk periode 2026 dalam sebuah prosesi resmi yang digelar pada Rabu, 14 Januari 2026. Pelantikan ini meliputi pengurus Dewan Eksekutif Mahasantri (DEMA), Ikatan Kepengurusan Mahasantri Asrama (IKMA), Lembaga Kepemimpinan Mahasantri Mahad Aly (LKMM), dan Lembaga Pers Mahad Aly (LPMA).
Pelantikan ditandai dengan pengambilan sumpah jabatan yang dipimpin langsung oleh Mudir Mahad Aly Sumatera Thawalib Parabek, Ustadz Taufik Hidayat, S.Th.I., M.Pd. Para pengurus yang dilantik menyatakan kesiapan mereka untuk menjalankan amanah organisasi sesuai dengan nilai-nilai kelembagaan Mahad Aly.
Usai pengambilan sumpah, kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan Presiden DEMA. Azizon, Presiden DEMA periode 2025, secara resmi menyerahkan kepemimpinan kepada Ayu Andila Putri sebagai Presiden DEMA periode 2026. Selanjutnya, serah terima jabatan Ketua IKMA dilakukan dari Novi Yuliana selaku Ketua IKMA periode 2025 kepada Annisaul Aula, Ketua IKMA periode 2026.
Dalam sambutannya, Azizon menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama masa kepemimpinannya. Ia juga menyampaikan harapan agar kepengurusan DEMA periode 2026 dapat menjadi lebih baik dan mampu membawa organisasi ke arah yang lebih progresif.
Sementara itu, Presiden DEMA terpilih periode 2026, Ayu Andila Putri, mengajak seluruh pengurus untuk menjadikan organisasi sebagai ruang belajar bersama. Ia menekankan pentingnya menjadikan DEMA sebagai ruang kolaborasi, pengembangan diri, serta ruang pengabdian bagi seluruh mahasantri.
Menutup rangkaian acara, Mudir Mahad Aly Sumatera Thawalib Parabek, Ustadz Taufik Hidayat, menyampaikan pesan penting terkait hakikat berorganisasi. Ia menegaskan tiga esensi utama dalam organisasi kemahasantrian, yaitu amanah, khidmah, dan keseimbangan.
“Amanah berarti kepengurusan ini harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya secara organisatoris, tetapi juga secara moral. Khidmah menunjukkan bahwa aktivitas organisasi adalah bentuk pengabdian mahasantri. Sedangkan keseimbangan menuntut mahasantri untuk mampu mengatur prioritas antara kegiatan organisasi dan perkuliahan,” tegasnya.
Pelantikan ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi kepengurusan organisasi mahasantri Mahad Aly Sumatera Thawalib Parabek periode 2026 dalam menjalankan program kerja yang berorientasi pada pengabdian, kepemimpinan, dan penguatan kualitas akademik.
