24 MAHASANTRI TURUN KE KUA BUKITTINGGI DAN AGAM, KHIDMATUL MUJTAMA TERMIN II FOKUS LATIH SKILL PELAYANAN UMAT

Sebanyak 24 mahasantri melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat (Khidmatul Mujtama) termin kedua dengan penempatan di sejumlah Kantor Urusan Agama (KUA) di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Kegiatan ini berlangsung selama hampir dua bulan, terhitung sejak 4 Maret hingga 30 April 2026.

Para peserta diantar langsung oleh jajaran struktural Mahad Aly Sumatera Thawalib Parabek sebagai bentuk komitmen institusi dalam mengawal proses pengabdian sekaligus memastikan kesiapan mahasantri di lapangan.

Sebanyak 24 mahasantri tersebut dibagi ke dalam delapan kelompok dan ditempatkan pada delapan KUA berbeda, yakni:

  1. KUA Aur Birugo Tigobaleh
  2. KUA Guguak Panjang
  3. KUA Banuhampu
  4. KUA IV Koto
  5. KUA Ampek Angkek
  6. KUA Canduang
  7. KUA Baso
  8. KUA Kamang Magek

Penempatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasantri dalam memahami dinamika pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.

Khidmatul Mujtama di lingkungan KUA bertujuan melatih keterampilan (skill) mahasantri, khususnya dalam aspek pelayanan publik dan penguatan etos khidmah kepada umat. Selama masa pengabdian, para mahasantri terlibat dalam berbagai aktivitas administrasi dan pelayanan keagamaan, mulai dari pencatatan pernikahan hingga layanan konsultasi dan bimbingan keagamaan.

Pihak KUA menyambut baik pelaksanaan program ini. Kepala KUA Baso, Bapak Ismail Roma, S.Ag, MA., mengungkapkan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan kepada KUA sebagai lokasi pengabdian.

Ia berharap para mahasantri dapat memanfaatkan momentum ini untuk belajar secara langsung tentang manajemen pelayanan publik berbasis keagamaan. “Kantor KUA bukan hanya melayani urusan pernikahan, tetapi juga berbagai pelayanan keagamaan lainnya yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Program Khidmatul Mujtama menjadi bagian dari integrasi antara pembelajaran akademik dan praktik lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasantri tidak hanya menguasai teori fikih dan hukum keluarga Islam, tetapi juga memahami implementasinya dalam sistem administrasi negara.

Dengan durasi pengabdian yang cukup panjang hingga akhir April 2026, diharapkan para mahasantri mampu menyerap pengalaman secara komprehensif—mulai dari etika pelayanan, ketelitian administrasi, hingga kemampuan komunikasi dengan masyarakat.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen Mahad Aly dalam mencetak kader ulama dan intelektual muslim yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga profesional dalam pelayanan umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*